Jika dilihat
secara sepintas, ayam Shamo lebih mirip ayam Bangkok. Tapi jika disandingkan
berdua, maka ayam Shamo dewasa akan lebih besar badannya dari ayam Bangkok yang
sudah dewasa. Inilah cirri fisik utama dari ayam aduan yang berasal dari
Jepang, yaitu ayam Shamo. Perawakan ayam Shamo jauh lebih besar dari umumnya
ayam aduan yang diternak di Indonesia. Sehingga seringkali sangat sulit
menemukan lawan tarung yang sepadan untuk Shamo. Bahkan Bangkok saja hanya
sedikit yang perawakannya sebesar Shamo.
Oleh karena itu,
ayam Shamo sering diadu dengan sesame ayam Shamo. Tubuh ayam Shamo tinggi dan
besar, posturnya tegap bak seorang tentara. Bahkan ayam ini bisa menegakkan
badannya hingga 95 derajat sehingga akan membuat lawan ciut nyalinya sebelum
bertanding. Secara fisik, seperti bulu, taji, dan jengger, ayam ini tidak
terlalu berbeda. Artinya sama dengan ayam jantan pada umumnya. Hanya tubuhnya
saja yang besar, bisa mencapai berat 7 kg saat dewasa.
Dengan
keunggulan fisik tersebut, ayam Shamo menjadi hampir selalu ditakuti di arena
sabung ayam. Saking besarnya, sangat sulit menembukan lawan yang sepadan. Gaya
bertarungnya pun terbilang khas. Ayam Shamo bisa dibilang tidak agresif dan
selincah ayam Burma maupun Vietnam. Tapi urusan kekuatan pukulan, ayam Shamo
mungkin ada di urutan paling atas, bahkan mengalahkan Bangkok. Seringkali hanya dengan sekali pukul saja
lawan langsung tersungkur dan tidak dapat bangun lagi alias kalah.
Hal ini tidak
lepas dari kekuatan dan akurasi pukulan. Ayam Shamo memiliki akurasi pukulan yang baik. Ia bahkan
bisa menghabisi lawan dengan sekali pukulan di bagian belakang kepala. Ayam
manapun akan langsung KO jika dipukul di bagian sensitive itu. Apalagi kekuatan
pukulan ayam Shamo yang memiliki perawakan tinggi besar adalah yang terkuat di
antara ayam petarung lainnya.
Selain itu, mungkin adalah stamina. Ayam Shamo memiliki stamina dan daya juang yang tinggi sehingga dikenal tak mudah menyerah. Itulah beberapa keunggulan serta ciri fisik dari ayam petarung asal Jepang, ayam Shamo.