Ayam petarung banyak sekali jenis
dan asalnya. Dari mulai dalam negeri sampai penjuru dunia. Di Indonesia sendiri
terdapat beberapa jenis ayam petarung. Ayam-ayam tersebut berasal dari beberapa
pulau di Indonesia, seperti Sumatera, Jawa, Bali, Sulawesi, dan lain-lain. Setiap
daerah memiliki ayam petarung dengan karakteristik yang berbeda dengan daerah
lain. misalnya; ayam petarung Sumatera berbeda dengan ayam petarung Madura,
ayam petarung Jawa berbeda dengan ayam Bali, ayam petarung Kalimantan berbeda
dengan ayam Sulawesi dan lain sebagainya.
Ayam dari pulau Jawa kebanyakan
bukan dari ras petarung. Tidak sedikit dari ayam yang ada di Jawa adalah ayam
kampung (jago jawa) dan dianggap tidak memiliki kemampuan bertarung sehebat
ayam lainnya. Hal ini karena kebanyakan mental bertarung ayam jawa tidak
sehebat dengan ayam petarung lainnya khususnya seperti ayam Bangkok, ayam
Shamo, maupun ayam Aseel yang memiliki mental baja dalam bertarung. Namun ada
juga ayam kampong Jawa yang kualitas bertarungnya baik, misalnya adanya legenda
ayam Cidelaras, legenda ayam Ciung Wanara, dan ayam Ciparage. Ayam Ciparage
juga ayam khas Jawa tepatnya Jawa Barat di daerah pesisir utara.
Meskipun tergolong ayam petarung,
Ayam Ciparage tidak memiliki tubuh yang tinggi tegap. Ukuran tubuhnya lebih
kecil dan pendek dibanding ayam petarung lainnya seperti ayam Bangkok atau ayam
Filipina. Dengan tubuh kecilnya itu ayam Ciparage bertarung mengandalkan
kecepatan dan kelincahan. Pukulannya memang tidak kuat, tapi akurat dan
bertubi-tubi. Sehingga bisa membuat lawan tidak bisa menyerang balik sampai
akhirnya KO.
Ayam Jawa lain bukan tipe ayam
petarung. Sering kali pada waktu ditarungkan dengan ayam yang memang
berkarakter petarung, ayam hanya akan bertahan sebentar lalu kabur karena tidak
kuat menahan pukulan. Tetapi, ada juga ayam ‘blasteran’ Jawa Bangkok atau biasa
disebut cokolan yang berasal dari beberapa daerah di pulau Jawa.
Aslinya, ayam Bangkok Jawa bukan
berasal dari ras ayam Jawa melainkan Thailand / Bangkok. Namun, karena sudah
dipelihara dan dikembangbiakkan di Jawa, sudah tidak terlalu kelihatan lagi
embel-embel ‘Bangkok-nya’. Misalnya yang cukup terkenal adalah ayam Bangkok
Kebumen. Seorang pecinta ayam petarung membawa ayam petarung unggul dari
Thailand untuk dipelihara di daerah Gombong Kebumen. Hingga saat ini
populasinya cukup banyak dan diminati juga oleh para pecinta sabung ayam.
Kita tahu ayam petarung di tahah
Jawa memang tidak banyak jumlahnya. Namun justru di pulau Jawa budaya sabung
ayam berkembang cukup pesat.